Menu

Mode Gelap

News · 21 Jun 2021 05:04 WITA ·

Warga Kecamatan Ile Ape Blokir Kawasan Tanah Merah


 Warga Kecamatan Ile Ape Blokir Kawasan Tanah Merah Perbesar

Warga Kecatamatan Ile Ape saat memblokir akses masuk kawasan relokasi Tanah Merah (Foto : ist)




Lembata, Floreseditorial.com – Warga Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, Nusa Tenggara Timur, melalukan aksi pemblokiran kawasan pembangunan rumah di lahan relokasi Tanah Merah, dengan memasang plang ”Dilarang Beraktivitas di Desa Laranwutun,” Minggu (20/6/2021).

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Laranwutun, Antonius Toran Nilan, menjelaskan, aksi blokir jalan tersebut merupakan bentuk protes warga terhadap Pemda Lembata.

Menurutnya, hinggat saat ini Pemda Lembata belum menyelesaikan batas wilayah administratif Desa Laranwutun, Muruona, dan Kelurahan Lewoleba Timur.

“Pemerintah Desa sudah melayangkan surat kepada Pemda Lembata untuk menyelesaikan masalah ini tanggal 2 Juni 2021. Namun tak ada tindak lanjut dari pemerintah daerah. Sampai hari ini belum jelas batasnya,” ungkap Antonius.

Dalam laporan administratif, baik Desa Laranwutun, Muruona, dan Kelurahan Lewoleba Timur, sama-sama melaporkan batas wilayah administratif masing-masing di sebelah timur Rumah Jabatan Wakil Bupati Lembata, di Bilangan Lamahora.

Hal tersebut berdampak pada identitas warga yang tinggal di wilayah Lamahora sebelah timur sampai di batas kota Lewoleba menjadi tidak jelas. 

“Identitas warga yang tinggal di sekitar Kantor Bupati dan RSUD Lewoleba jadi tidak jelas. Ada yang masuk wilayah Lewoleba Timur dan ada juga yang masuk wilayah Laranwutun,”terangnya.

Selain memblokir pembangunan di lahan relokasi, pemerintah desa juga mengirimkan surat resmi kepada Pemda Lembata pada Senin (21/6/201). Dalam surat tersebut mejelaskan bahwa, pemblokiran tidak bermaksud menolak relokasi penyintas korban bencana banjir dan longsor, namun sebagai bentuk protes kepada Pemda Lembata yang belum sanggup menyelesaikan batas wailayah.

Lokasi Tanah Merah sendiri rencananya jadi tempat relokasi penyintas dari desa Lamawolo, Kecamatan Ile Ape Timur yang diterjang banjir dan longsor pada April 2021 silam.

Menurut pantau media, hari ini pemblokiran telah dibuka, dan aktivitas pembangunan rumah tetap dilakukan. – Warga Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, Nusa Tenggara Timur, melalukan aksi pemblokiran kawasan pembangunan rumah di lahan relokasi Tanah Merah, dengan memasang plang ”Dilarang Beraktivitas di Desa Laranwutun,” Minggu (20/6/2021).

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Laranwutun, Antonius Toran Nilan, menjelaskan, aksi blokir jalan tersebut merupakan bentuk protes warga terhadap Pemda Lembata.

Menurutnya, hinggat saat ini Pemda Lembata belum menyelesaikan batas wilayah administratif Desa Laranwutun, Muruona, dan Kelurahan Lewoleba Timur.

“Pemerintah Desa sudah melayangkan surat kepada Pemda Lembata untuk menyelesaikan masalah ini tanggal 2 Juni 2021. Namun tak ada tindak lanjut dari pemerintah daerah. Sampai hari ini belum jelas batasnya,” ungkap Antonius.

Dalam laporan administratif, baik Desa Laranwutun, Muruona, dan Kelurahan Lewoleba Timur, sama-sama melaporkan batas wilayah administratif masing-masing di sebelah timur Rumah Jabatan Wakil Bupati Lembata, di Bilangan Lamahora.

Hal tersebut berdampak pada identitas warga yang tinggal di wilayah Lamahora sebelah timur sampai di batas kota Lewoleba menjadi tidak jelas. 

“Identitas warga yang tinggal di sekitar Kantor Bupati dan RSUD Lewoleba jadi tidak jelas. Ada yang masuk wilayah Lewoleba Timur dan ada juga yang masuk wilayah Laranwutun,”terangnya.

Selain memblokir pembangunan di lahan relokasi, pemerintah desa juga mengirimkan surat resmi kepada Pemda Lembata pada Senin (21/6/201). Dalam surat tersebut mejelaskan bahwa, pemblokiran tidak bermaksud menolak relokasi penyintas korban bencana banjir dan longsor, namun sebagai bentuk protes kepada Pemda Lembata yang belum sanggup menyelesaikan batas wailayah.

Lokasi Tanah Merah sendiri rencananya jadi tempat relokasi penyintas dari desa Lamawolo, Kecamatan Ile Ape Timur yang diterjang banjir dan longsor pada April 2021 silam.

Menurut pantau media, hari ini pemblokiran telah dibuka, dan aktivitas pembangunan rumah tetap dilakukan. 

Artikel ini telah dibaca 3 kali

Baca Lainnya

Sekda Matim Serahkan Bantuan Asistensi Rehabilitasi Berbasis Keluarga di Matim

22 Oktober 2021 - 09:32 WITA

Dituding Lakukan Provokasi Melalui Video, Doni Pareira: Itu Ekpresi Kepanikan Para Aktor Mafia Tanah di Labuan Bajo

17 Oktober 2021 - 14:13 WITA

PT. WGP Diduga Serobot Lahan Warga Desa Pantar

16 Oktober 2021 - 07:54 WITA

Ke Labuan Bajo, Presiden akan Resmikan Penataan Sejumlah Infrastruktur

14 Oktober 2021 - 02:26 WITA

Pemkab Mabar Terima Piagam Opini WTP dari Kemenkeu

13 Oktober 2021 - 06:35 WITA

Waspada, Uang Palsu Pecahan 100 Ribu Kembali Beredar di Manggarai Timur

9 Oktober 2021 - 12:07 WITA

Trending di News
error: Content is protected !!