Menu

Mode Gelap

Top News · 4 Okt 2021 08:06 WITA ·

Tak Layani Misa Arwah Karena Belum Dibaptis, Pastor Paroki Sok: Itu Sesuai Ketentuan Hukum Gereja Katolik


 Pastor Paroki Sok, Pater Gabriel Yosef Namaola. (Foto: FEC Media) Perbesar

Pastor Paroki Sok, Pater Gabriel Yosef Namaola. (Foto: FEC Media)

Manggarai Timur, Floreseditorial.com – Paroki Sok, Keuskupan Ruteng, sontak menjadi sorotan, setelah menolak melakukan pelayanan misa arwah terhadap seorang bayi berusia 8 bulan di Dusun Bondo, Desa Watu Mori, karena belum dibaptis.

Penolakan pelayanan misa arwah ini dialami oleh Maria Chiara Alesandra, Putri bungsu Pasangan Jimi dan Yanti, umat Paroki St. Hubertus Sok.

Putri semata wayangnya yang kerap disapa Ara itu meninggal pada Sabtu (02/10/2021) karena sakit.

Dalam keterangan yang disampaikan, Pater Gabriel Yosef Namaola, ketika menemui keluarga duka pada Senin (04/10/2021) menjelaskan, hal tersebut sesuai ketentuan hukum gereja katolik.

Pastor Paroki St. Hubertus Sok itu menjelaskan, belas kasihan Allah yang besar menghendaki, agar semua orang diselamatkan. Cinta Yesus yang lemah lembut kepada anak-anak, yang mendorong-Nya untuk mengatakan: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku; jangan menghalang-halangi mereka,”

“Mengenai bayi-bayi yang meninggal tanpa dibaptis, liturgi Gereja menuntun kita, agar berharap kepada belas kasihan ilahi dan berdoa untuk keselamatannya,” katanya.

Menurutnya, pembaptisan dilakukan atas jiwa yang masih memiliki roh di dalamnya.

“Tidak bisa membatis untuk jiwa yang sudah tidak memiliki roh (jasad, red),” imbuhnya.

Ia menjelaskan, Gereja sudah sejak dahulu yakin bahwa orang-orang yang mengalami kematian karena iman, tanpa sebelumnya menerima Pembaptisan, telah dibaptis untuk dan bersama Kristus oleh kematiannya.

Meski demikian, Ia mengakui kekurangan gereja yang belum melakukan sosialisasi hukum gereja terkait pelayanan misa yang tidak bisa dilakukan terhadap bayi yang belum dipermandikan.

“Tetapi ini memang ketentuan hukum Gereja Katolik yang berlaku di seluruh belahan dunia,” katanya.

Ia menambahkan, kepada keluarga berduka diharapkan untuk tetap mendoakan jiwa arwah bayi yang telah meninggal dunia pada Sabtu (02/10/2021) lalu itu.

“Kita tak pernah dilarang untuk mendoakanNya,” katanya.

Untuk mendoakan jiwanya, katanya lebih lanjut, bisa dilakukan saat liturgi atau Misa hari ke 3, hari ke 40, hari ke 100 dan hari hari lainnya.

Sementara, Petrus Krusen, perwakilan pihak keluarga kepada media ini menjelaskan, saat ini, mayoritas umat Katolik belum mengetahui perihal hukum gereja yang tidak bisa melakukan pelayanan atau misa atas bayi yang belum dibaptis.

Meski demikian, ia menyampaikan permohonan maaf atas persoalan tersebut.

“Atas nama keluarga berduka kami minta maaf, karena memang kami tidak tau aturan hukum Gereja ini,” katanya.

Gereja, katanya lebih lanjut, diharapkan untuk dapat melakukan sosialisasi lebih intens perihal hukum gereja katolik.

“Misalnya dengan katekese atau sejenisnya, sehingga tidak ada bayi lainnya yang harus dikuburkan tanpa pembaptisan,” tutupnya.

Artikel ini telah dibaca 2.024 kali

Baca Lainnya

Rumah Warga di Kampung Golput Direndam Banjir, Puluhan Warga Mengungsi

19 Januari 2022 - 05:59 WITA

Proyek Pekerjaan Ruangan Baru di RSUD Ben Mboi Dipaksakan PHO

19 Januari 2022 - 04:44 WITA

Sukses Rebut Laki Orang, Bidan di Puskesmas Dampek Kencani Pria Satu Anak Asal Kota Komba

18 Januari 2022 - 04:45 WITA

Wartawan FEC Media Mendaftar Sebagai Anggota PWI

17 Januari 2022 - 05:01 WITA

21 Ekor Sapi Ilegal di Nanga Nae, Akan  Kembali Diselundupkan

15 Januari 2022 - 14:57 WITA

Sengkarut Kepemilikan Mobil Ranger Bodong Seret Nama Wakil Ketua DPRD Matim

12 Januari 2022 - 03:40 WITA

Trending di Hukrim
error: Content is protected !!