Menu

Mode Gelap

News · 16 Okt 2021 07:54 WITA ·

PT. WGP Diduga Serobot Lahan Warga Desa Pantar


 Muh. Jufri saat menunjuk pilar yang dipasang oleh PT. Wijaya Graha Prima (Foto: FEC Media / Roby) Perbesar

Muh. Jufri saat menunjuk pilar yang dipasang oleh PT. Wijaya Graha Prima (Foto: FEC Media / Roby)

Labuan Bajo, Floreseditorial.com – PT. Wijaya Graha Prima (PT. WGP), perusahan yang bergerak dibidang pertambangan di Kabupaten Manggara Barat (Mabar), diduga menyerobot lahan warga desa Pantar, kecamatan Komodo, kabupaten Mabar dengan memasang pilar. Padahal titik koordinat pemasangan pilar tersebut adalah bekas lokasi persawahan warga.

Ahmad Jefry (43), warga kampung Benteng, desa Pantar, kabupaten Mabar mengungkapkan, titik koordinat pemasangan pilar yang dilakukan oleh perusahaan tersebut salah dan telah menyerempet lahan warga setempat.

“Kawasan ini dulunya adalah persawahan warga, tetapi karena bencana banjir tahun 2012, sawah kami tergerus banjir dan tertutup material batu dan pasir, tak tau bagaimana, perusahaan ini datang dan lansung menanam pilar,” ungkapnya, Sabtu (16/10/2021).

Ia berharap, agar pihak perusahaan bisa merevisi titik koordinat pemasangan pilar terebut agar tidak masuk ke lahan warga.

“Kalau mereka memasang pilar di tempat yang benar, tidak soal. Tetapi titik koordinat itu berada di tanah kami,” ungkapnya.

Senada disampaikan oleh Muhammad Abdi. Menurutnya, lokasi tersebut adalah bekas lahan warga yang tertimbun material banjir beberapa tahun silam.

“Lokasi ini dulunya adalah bekas persawahan kami”, ungkapnya.

Ia berharap agar pihak PT. WGP segera mencabut pilar tersebut.

Sementara itu, Erik, perwakilan PT. WGP saat dihubungi floreseditorial.com menjelaskan, titik koordinat pemasangan Pilar dilakukan sesuai petunjuk yang diberikan oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Mabar.

“Itu berdasarkan arahan dari Dinas ESDM,” ungkap Erik.

Ditanya perihal titik koordinat pemasangan pilar, Erik berdalih bahw dirinya tidak mengetahui jika lokasi tersebut adalah lahan warga.

“Sayakan tidak tahu yang mana tanah mereka, tetapi lebih baik minta klarifikasi ke BPN, sehingga bisa ditinjau ulang lokasi penambangan di daerah tersebut”, tukasnya.

Laporan: Roby

Artikel ini telah dibaca 238 kali

Baca Lainnya

Stefanus Gandi: Kabupaten Ngada Menjadi Role Model Pertanian di NTT

21 Januari 2022 - 13:25 WITA

Stefanus Gandi: Keberanian adalah Kunci  Menjadi Sukses

21 Januari 2022 - 08:22 WITA

Stefanus Gandi: Tidak Ada yang Lebih Kaya di Dunia Ini Selain Hati Kita

20 Januari 2022 - 12:05 WITA

Stefanus Gandi Institute Gemakan Literasi di Bumi Flores, Ini Kata Uskup Ruteng

20 Januari 2022 - 03:34 WITA

Tak Bayar Upah Kerja, Pemilik Bengkel Ancam Jual Kendaraan Dinas Pemkab Matim

19 Januari 2022 - 11:15 WITA

Mobil Ekspedisi Mitra Jaya Terbalik di Aimere, Begini Kondisinya

19 Januari 2022 - 09:35 WITA

Trending di News
error: Content is protected !!