Menu

Mode Gelap

News · 17 Jun 2021 09:21 WITA ·

Masalah Cinta, Inisiator Komodo Lawyer Club Labuan Bajo Diadukan ke Polisi Oleh Mantan Tunangannya


 Masalah Cinta, Inisiator Komodo Lawyer Club Labuan Bajo Diadukan ke Polisi Oleh Mantan Tunangannya Perbesar

Keluarga Maria Olga Jimun menunjukan dokumen kesepakatan denda Adat kepada awak Media. (Foto: Ist)




Labuan Bajo, Floreseditorial.com – Plasidus Asis Doernay, seorang Pengacara kondangan yang berdomisili di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, terpaksa diadukan ke Pihak berwajib lantaran dituding telah membohongi seorang perempuan di Kabupaten Manggarai.

Inisiator Komodo Lawyer Club (KLC) itu dituding telah mengingkari kesepakatan adat, padahal kesepakatan tersebut telah ditandatangani dalam sebuah dokumen bermeterai.

Asis, diadukan oleh Mantan tunangannya Maria Olga Jimun bersama keluarganya pada Rabu (16/6/2021), karena merasa dirugikan oleh perilaku konsultan hukum itu.

Dalam keterangannya kepada awak media, Maria mengatakan, ia bersama keluarga mendatangi Polres Manggarai agar masalah tesebut bisa ditindaklanjuti.

“Sebagai perempuan saya dilecehakan, padahal, Ia sudah membuat keputusan sah secara adat Manggarai untuk menikahi Saya,” kata Maria.

Namun, dalam perjalan kisah cinta mereka, kata Maria, Asis kemudian membatalkan janjinya untuk menikahi Maria dan menyanggupi untuk membayar denda adat.

“Kesanggupan untuk membayar denda adat itu, telah diterangkan Asis dalam sebuah dokumen,”katanya.

Dalam surat kesepakat bersama terkait kesanggupan  membayar sanksi adat, yang dibuat pada Jumat (26/02/2021) lalu, Asis menyatakan kesanggupan untuk membayar denda sebesar Rp. 100.000.000 dan satu ekor Kerbau yang akan ditunaikan pada Selasa (25/06/2021).

Menurut Maria, kesepakatan adat ini adalah bentuk penyelesaian perselisihan keluarga.

“Namun tidak ditepati,” kata Maria.

Sementara Plasidus Asis Doernay, dalam keterangan yang diterima wartawan, mengaku sudah sejak lama menjalin hubungan cinta dan tinggal serumah dengan Maria.

“Setelah sekian bulan, tinggal bersama di sebuah kontrakan di Labuan Bajo, pada bulan Agustus 2020, kami bertunangan. Saat itu saya membawa uang puluhan juta dan hewan seturut kebiasaan adat yang telah disepakati bersama. Acara berlangsung meriah dan dihadiri kedua keluarga besar,” jelas Asis.

Usai pertunangan, keduanya kembali ke Labuan Bajo dan hidup bersama.

Namun dalam perjalan cinta mereka, kata Asis, ia mulai merasakan sesuatu yang aneh yang terjadi dengan dirinya. 

“Karakter dan perilakunya memberi kesan kurang nyaman selama hidup bersama. Perilaku temperamen ditunjukan dalam tutur kata yang cenderung menghina profesi saya,” kata Asis.

Ia menjelaskan, dalam hubungan cinta mereka, sering terjadi pertengkaran. 

“Saya mencoba untuk bertahan dan tidak gegabah mengambil sikap. Hari demi hari saya pelajari, dan sampailah pada suatu ketika Ia jatuh sakit. Sakit yang dideritanya bagi saya sulit diobati secara medis. Dia mengaku sering melihat arwah orang yang sudah meninggal, setan dan lainnya yang membuat saya kalang kabut dan hilang fokus pada pekerjaan saya,” tandasnya.

Saat itu, kata Asis, Iapun menghubungi kedua orang tua Maria dan meminta orang tuanya untuk merawat anaknya. 

“Sakit pada minggu berikutnya juga sama. Yang lebih menakutkan saat dia memegang pisau hendak membunuh saya, saat saya sedang tidur di sofa kantor. Untungnya saya selamat ketika Dia lebih dulu memukul paha saya dengan tangan. Saya dikejar keliling rumah hingga tetangga melihat peristiwa itu,” imbuhnya.

 

Kata Asis, setelah beberapa jam Maria sembuh, Ia meminta agar dirinya tinggal dulu di rumah orang tuanya di Anam, Kabupaten Manggarai.

“Saya mengatarkan dia ke rumah orang tuanya. Satu minggu setelah itu, saya mendapat kabar bahwa ia sedang berobat di Satar Mese. Kami saling menelpon menanyakan keadaan masing-masing,” kata Asis.

Beberapa waktu berselang, Asis pun memutuskan untuk kembali menjemput tunangannya itu kembali ke Labuan Bajo

“Baru seminggu di Labuan Bajo, sakitnya mulai kambuh lagi,  Jujur Saya lelah dan kemudian saya memutuskan agar Ia diantar kembali ke Anam untuk mengobati sakitnya. Pada saat itu terjadilah pertengkaran hebat. Ia menjust saya sebagai laki-laki tidak bertanggung jawab karena tidak mampu merawat dirinya,  Saya masih ingat kata-katanya begini, Kalau ite minta saya kembali ke rumah orang tua saya, saya minta antar saya pulang baik-baik ke orang tua saya. Jika sudah tidak mau dengan saya, ya Molas Kole” tutur Asis menirukan ucapan Maria.

Saat mendengar perkataan itu, Asis menilai bahwa Maria ini tidak memahami dirinya. 

“Tetapi saya menjawab begini, saat itu, bahwa yang saya maksudkan bukan tentang saya tidak cinta lagi, tetapi ini tentang dirinya yang sakit. Akhirnya ia memutuskan pergi dan tidak kembali ke Anam tetapi memilih istirahat di rumah keluarga saya di Hombel Ruteng. Saya ditelepon keluarga saya untuk segera ke Ruteng untuk selesaikan persoalan kami berdua dgn cara adat manggarai. Keesokannya saya ke Ruteng untuk menyelesaikan persoalan kami hingga kami sepakat untuk diselesaikan secara baik-baik dihadapan kedua orang tua dan keluarga besar,” jelasnya.

Perpisahan 

“Jujur tahap ini diluar dugaan saya  Karena kesepakatan bertemu orang tua dan keluarga besar di Anam sesungguhnya adalah tentang Konsolidasi Perdamaian. Saya meminjam istilah adat Manggarai yakni Baro Salah,” kata Asis.

Menurutnya, Ia  bersama keluarga mendatangi kedua orang tua dan keluarga besar di Anam  untuk melakukan upaya perdamaian. 

“Apa yang terjadi? Niat baik Kami sia-sia. Upaya perdamaian yang kami lakukan hanyalah sebuah cara untuk melepaskan anak perempuan Mereka. Saya dihujat dengan kata-kata yang kurang sopan yang membuat saya tidak nyaman dan tidak dihargai,” jelasnya.

Saat itu, katanya, keluarga Maria menawarkan dua opsi. Opsi yang ditawarkan yakni, Pertama, mau serius nikahi anak mereka atau berpisah.

“Saat itu, saya spontan mengatakan bahwa kedatangannya sesungguhnya untuk acara Baro Salah. Saat saya sedang menjawab dan belum selesai berbicara, ada suara sumbang di luar pintu dengan kata-kata yang kasar. Ada yang mengancam pukul, ada juga menghina profesi saya. Saya merasa harga diri saya berantakan,” katanya.

Ia pun terdiam dan sembari memikirkan semua kemungkinan terburuknya. 

“Dalam hati, saya renungkan. Waktu sudah pukul 02.00 malam, mereka meminta saya untuk menjawab yang secepatnya, memang agak bertentangan dengan nurani Saya. Karena kalau saya jawab seperti tadi lagi bukankah mereka marah kembali diri saya? Saat itu suasana batin saya tidak tenang dan yang saya rasakan ada  semacam  paksaan dan tekanan untuk memilih opsi yang kedua yakni melepaskan anak perempuan mereka. Sebagai orang manggarai saya tahu maksud dan konsekuensi yang saya terima,” katanya.

Kata Asis, daripada dihujati dengan kata-kata kasar lagi,  maka ia lebih memilih opsi kedua. 

Dengan rasa takut, Asis memutuskan untuk berpisah dengan Maria . 

“Mendengar itu mereka semua menyambut gembira, sambil menjawab, Eme Bao lite Timbon Hoo, Poli Bao Gi Tombo hoo Ga” kisah Asis.

Sanksi Adat.

Menurut Asis, awalnya keluarga Maria menawarkan sanksi adat molas kole sebesar  Rp. 300.000.000, dan 1 ekor kerbau. 

“Bahkan Maria meminta uang senilai Rp. 500.000.000 dan satu ekor kerbau. Dengan dalil harga diri sebagai seorang wanita dan nama baik keluarga. Mendengar itu saya kaget, uang dari mana saya membayar sejumlah itu?

Sayapun meminta untuk diturunkan sanksi adat,  Saya menawarkan Rp. 50.000.000, dan satu ekor Kerbau,” jelasnya.

Pada akhirnya kata Asis, mereka menerima keputusan di angka Rp. 100.000.000, dan satu kerbau, tetapi dengan syarat, harus dibuatkan surat pernyataan. 

“Dengan penuh rasa takut sayapun membuat surat pernyataan dan ditandatangani di atas meterai. Dalam surat pernyataan itu isinya kurang lebih soal kesanggupan  membayar sangsi adat sesuai kesepakatan dan waktu yang dijanjikan,” jelasnya.

Dalam surat yang telah dibuat, Ia diwajibkan membayar denda adar sejumlah 100 juta dan satu ekor kerbau.

“Suasana batin saya tidak tenang karena saya merasa bahwa uang sejumlah itu tidak mungkin saya dapatkan. Akhirnya saya memilih untuk meloby Maria dan Jubir adat (Tongka,red), agar bisa menurunkan denda sangsi adat di angka 50 juta dan satu ekor kerbau,” kata Asis.

Setelahnya, Ia pun berusaha meminjam uang dari seorang sahabatnya. Ia hanya hanya bisa dapat 10 juta rupiah. 

“Hari Selasa, tanggal 15 Juni 2021, itu saya memberanikan diri untuk menghadap dan membawa sesuai kemampuan saya,” katanya.

Sesampainya di Anam pada malam acara penyerahan sanksi adat berlangsung. Pihak keluarga Maria tidak menerima karena mereka menilai bahwa saya telah ingkar janji. 

“Saya meminta Tongka keluarga Koter Anam, agar terima saja uang saya ini dan jangan dimasukkan dalam sanksi adat. Ini uang permohonan saya untuk mundur tanggal dan bulannya,” katanya.

Pada akhirnya keluarganya, menerima uang tersebut, tetapi harus ada saksi yang menjamin dan berkomitmen untuk membayar sanksi adat sejumlah 50 juta dan satu ekor kerbau. 

“Saat itu saya meminta bantuan Edison Rihi Mone, sahabat saya untuk menjadi saksi,” katanya.

Menurutnya, menyelesaikan persoalan adat apalagi tentang sanksi adat hanya bisa diselesaikan oleh hukum adat itu sendiri.

“Lembaga DPRD dan Bupati bukanlah orang yang dimintakan pertanggungjawaban. Eror in Persona. Salah sasaran. Begitu juga kepolisian,” kata Asis.

Menurut Asis, Rana Polisi untuk  memproses masalah sanksi adat tidak diatur. 

“Terkecuali jika diminta untuk memediasi persolan seperti ini.  Yang pasti mereka akan mengupayakan sebagai pendekatan dengan cara damai. Pendekatan Restoratif Justice,” katanya.

Ia mengatakan setiap warga negara sama dihadapan hukum (Equality before the Law,red). 

“Saya dan sahabat saya Edison tentu tidak tinggal diam. Apa yang dirasa itu bisa kita pidanakan. Yang jelas soal mereka mengadukan saya dan Pak Edison ke kantor DPRD, Bupati dan Polisi Manggarai bagi kami berdua itu sudah melampaui anjuran hukum adat kita sebagai orang Manggarai,” tukasnya.

Artikel ini telah dibaca 1 kali

Baca Lainnya

Sekda Matim Serahkan Bantuan Asistensi Rehabilitasi Berbasis Keluarga di Matim

22 Oktober 2021 - 09:32 WITA

Dituding Lakukan Provokasi Melalui Video, Doni Pareira: Itu Ekpresi Kepanikan Para Aktor Mafia Tanah di Labuan Bajo

17 Oktober 2021 - 14:13 WITA

PT. WGP Diduga Serobot Lahan Warga Desa Pantar

16 Oktober 2021 - 07:54 WITA

Ke Labuan Bajo, Presiden akan Resmikan Penataan Sejumlah Infrastruktur

14 Oktober 2021 - 02:26 WITA

Pemkab Mabar Terima Piagam Opini WTP dari Kemenkeu

13 Oktober 2021 - 06:35 WITA

Waspada, Uang Palsu Pecahan 100 Ribu Kembali Beredar di Manggarai Timur

9 Oktober 2021 - 12:07 WITA

Trending di News
error: Content is protected !!