Menu

Mode Gelap

Top News · 4 Des 2021 12:09 WITA ·

Jefrin Haryanto: Kekerasan dan Agresivitas Sudah Menjadi Menu Obrolan Harian Remaja di Ruteng


 Jefrin Haryanto, Konsultan dan Praktisi Psikologi pada Yayasan Mariamoe Peduli. (Foto: Ist) Perbesar

Jefrin Haryanto, Konsultan dan Praktisi Psikologi pada Yayasan Mariamoe Peduli. (Foto: Ist)

Ruteng, Floreseditorial.com – Aksi tawuran para remaja, pasti terkait dengan gagalnya para remaja tersebut menyelesaikan tugas perkembangan dalam fase pencarian jati diri.

Dalam fase perkembangan, kelompok anak remaja ini sedang berada dalam kebutuhan perkembangan eksploratif dengan kecerdasan emosi yang menggebu-gebu.

Hal ini disampaikan oleh, Jefrin Haryanto, Konsultan dan Praktisi Psikologi pada Yayasan Mariamoe Peduli saat dimintai tanggapannya perihal tawuran pelajar di Ruteng baru-baru ini.

Menurut Jefrin, Kondisi remaja yang labil, membuat mereka menyukai tantangan. Dalam periode ini peran orang tua atau orang dewasa lain sangat dibutuhkan untuk membantu menyalurkan kebutuhan tersebut pada kanal yang positif.

Pola pengasuhan orang tua yang permisif menjadi penyumbang utama dari perilaku bermasalah para remaja ini.

Jefrin menyampaikan bahwa anak-anak sedang butuh perhatian, untuk tidak mengatakan bahwa mereka tidak mendapat perhatian yang memadai.

“Sekarang anda bisa tanya secara random kepada orang tua, apakah mereka mengenal dengan baik anaknya? Siapa teman anaknya? Apa aktivitasnya diluar? Apa isu yang jadi tema diskusi anaknya? Bagaimana pola komunikasi dalam peer groupnya? Bagaimana aktivitas media sosial anaknya” kata Jefrin, Sabtu (04/12/2021).

Dalam kasus tawuran di Ruteng, katanya lebih lanjut, patut diduga bahwa kekerasan, agresivitas, adalah tema-tema yang sudah akrab dalam menu obrolan mereka tiap hari.

“Dalam istilah saya ada ‘ego’ yang butuh diberi makan tapi dengan cara yang salah. Kebutuhan diakui, kebutuhan akan peran, kebutuhan untuk dipuji, kebutuhan untuk ditepuk tangani adalah kebutuhan yang sedang mereka butuhkan hari ini. Mereka sedang butuh panggung pada pementasan drama yang salah,” katanya.

Ia menjelaskan, pihak sekolah, orang tua bahkan pemerintah daerah harus melihat situasi ini sebagai gambaran situasi Psikologi sosial anak-anak remaja kita.

“Maka meski didesain satu pola rekayasa psikologi sosial, agar bisa dirumuskan langkah antisipatif, langka penyelesaian dan langkah tindak lanjut agar ini tidak berulang atau menjadi tutorial bagi kelompok remaja lain di kota ini untuk melakukan hal yang sama,” imbuhnya.

Dari sisi kebijakan pemkab, katanya lebih lanjut, sebenarnya sedang diberitahu tentang kondisi psikologi sosial remaja di kota ini.

“Segera hal ini bisa dibaca, dikaji, dan dirancang aktivitas-aktivitas yang tujuannya menyiapkan kanal-kanal bagi kebutuhan ruang ekpresi bagi remaja-remaja kita,” tukasnya.

Artikel ini telah dibaca 101 kali

Baca Lainnya

Meski Telah di PHO, Proyek Gedung Baru RSUD Ben Mboi Ruteng Masih Banyak Kekurangan Volume

21 Januari 2022 - 06:14 WITA

Meski Pengerjaanya Belum Tuntas, Proyek Gedung Baru RSUD Ben Mboi Telah Diserahterimakan

20 Januari 2022 - 06:04 WITA

Rumah Warga di Kampung Golput Direndam Banjir, Puluhan Warga Mengungsi

19 Januari 2022 - 05:59 WITA

Proyek Pekerjaan Ruangan Baru di RSUD Ben Mboi Diduga Dipaksakan PHO

19 Januari 2022 - 04:44 WITA

Sukses Rebut Laki Orang, Bidan di Puskesmas Dampek Diduga Kencani Pria Satu Anak Asal Kota Komba

18 Januari 2022 - 04:45 WITA

Wartawan FEC Media Mendaftar Sebagai Anggota PWI

17 Januari 2022 - 05:01 WITA

Trending di Top News
error: Content is protected !!